Nama    Rd. Anggakusumah
Tanggal Lahir    unknown
Perguruan     -
Posisi    founder
Pangkat    pendekar

Rd. Anggakusumah

Rd. Anggakusumah merupakan pencipta aliran Timbanganten. Ia dilahirkan di Sumedang pada Oktober 1887 dan meninggal pada 1997 di Bandung. Ayahnya adalah Rd. Haji Adra’i, Kepala Penghulu di Sumedang.

Pada masa mudanya  Rd. Anggakusumah aktif di organisasi Sarikat Islam cabang Bandung. Sifatnya yang kritis terhadap masalah sosial politik pada waktu itu, mengakibatkan ia ditangkap pemerintah Hindia Belanda pada 1919, kemudian dijebloskan ke penjara Banceuy.

Di dalam penjara, Rd. Anggakusumah banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan lain. Bersama mereka ia sering berdiskusi mengenai keadaan bangsanya. Rd. Anggakusumah tidak hanya melihat masalah bangsanya dari kacamata politik, tetapi juga melalui kacamata filosofis.

Melalui perenungan filosofis itulah, Rd. Anggakusumah menemukan suatu cara agar manusia selamat dalam menjalani hidup di dunia. Hasil renungannya dibukukan dalam tiga buah kitab berbahasa Sunda yang disusun dalam bentuk guguritan (tembang), yaitu Guaroma (Gurinda Alam Rohani Majaji), Ibtat (Imam Bener Tetengger Allah Ta’ala), dan Satahama (Sareat, Tarekat, Hakekat, Ma’rifat). Lahirnya kitab ini dianggap sebagai lahirnya aliran Timbangan, karena sejak itulah dimulai latihan pembelaan diri terhadap serangan yang ditujukan pada rohani. Bentuk latihannya adalah diskusi antar tahanan yang dimaksudkan untuk membentuk kepribadian yang kuat.

Menurut Rd. Anggakusumah, manusia akan selamat bila memegang teguh prinsip cageur (sehat jasmani), bageur (berkelakuan baik), dan bener (berbuat benar). Ketiga unsur ini kemudian dilengkapi hari oleh Rd. Muhyidin, salah seorang anaknya, dengan enam pegangan lain sehingga menjadi sembilan, disebut Sangawedi. Tambahannya adalah ati-ati (hati-hati), taliti (teliti), gumati (sungguh-sungguh), toweksa (cermat), wiwaha (penuh pertimbangan), dan waspada.

Tahap perenungan berikutnya adalah kenyataan bahwa banyak orang lemah yang mengalami pederitaan karena ditindas oleh orang yang kuat walaupun ia berada di pihak yang benar. Itulah sebabnya Rd. Anggakusumah mulai memikirkan pembelaan diri dalam segi jasmani.

Dari penjara Banceuy, Rd. Anggakusumah lantas dipindahkan ke penjara Sawahlunto, Sumatra, yang banyak dihuni penjahat dan pembunuh. Di tempat inilah hasil renungannya digunakan untuk melumpuhkan seorang narapidana gila yang mengamuk dan banyak melukai narapidana lain. Selain itu, jagoan-jagoan yang merasa iri dapat pula ditaklukkan dan disadarkan olehnya, sehingga akhirnya menjadi sahabat Rd. Anggakusumah.

Pada 1923, Rd. Anggakusumah dilepaskan dari penjara Sawahlunto dan kembali ke Bandung. Namun ia tak segera mengadakan latihan Timbangan. Latihan beladiri ciptaannya ini baru dilakukan sekitar 1928 sampai 1942. Yang berlatih Timbangan saat itu kebanyakan para pemuda pergerakan dan tokoh-tokoh penca yang sudah terkenal di Bandung.

Rd. Anggakusumah wafat tahun 1979 dan dimakamkan di Nyengseret, Bandung.


Galeri